(Perdagangan Bebas Regional Dan Daya Saing Ekspor Kasus Indonesia)

Perdagangan Bebas Regional Dan Daya Saing Ekspor Kasus Indonesia
Amalia adininggar widyasanti

A.    Masalah
           Bagaimana daya saing produk indonesia setelah diterapkannya ASEAN Free Trade Area (AFTA) dan ASEAN-Cina Free Trade Area (ACFTA)? 
           Alasan mengapa kedua FTA ini dipilih karena: (i) ASEAN dan Cina adalah pasar ekspor utama Indonesia. dan (ii) Negara-negara ASEAN merupakan pesaing utama Indonesia dalam pasar ini.

B.     Teori
Menurut teori dagang internasional, FTA diterima karena keuntungan yang diperoleh oleh negara-negara yang terlibat dari perdagangan ini, yang berasal dari konsep keuntungan komparatif. Sebuah negara akan mengkhususkan diri dalam menghasilkan suatu produk jika memiliki keuntungan komparatif. Dengan pengkhususan macam ini, secara umum dunia dapat mengembangkan keluaran dunia total ( total world output ) dengan jumlah sumber daya yang sama, dan pada saat yang sama efisiensi ekonomi akan terus meningkat. Hasilnya, secara teoritis, sebuah FTA dapat menjamin bahwa negara-negara yang terlibat dalam kesepakatan ini, akan memperoleh keuntungan dari hasil terbentuknya perdagangan (trade creation) dan pengalihan dagang (trade diversion).

C.     Metode dan Data
Data yang digunakan dalam makalah ini secara garis besar diperoleh dari Database UNCOMTRADE yang didapatkan menggunakan aplikasi World Integrated Trade Solution (WITS). Data ekspor diambil dari data tahun 1996-2008 untuk negara ASEAN dan Cina. Data untuk negara ASEAN hanya meliputi Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina dan Brunei, dikarenakan negara anggota ASEAN lainnya tidak memiliki set data lengkap di WITS. Analisis produk ini merujuk kepada klasifikasi HS 2 digit tahun 1996. Penghitungan Indeks Intensitas Ekspor secara khusus diperoleh dari Asia Regional Integration Center Database in Integration Indicator Database.

D.    Hasil
Hasilnya menunjukkan bahwa Indonesia dalam kondisi yang baik dan telah membuka pangsa pasarnya sendiri untuk beberapa produk. Namun beberapa strategi kebijakan diperlukan untuk produk-produk ini, terutama untuk produk sayuran yang telah kehilangan kesempatannya di pasar ASEAN. Beberapa kebijakan yang dibutuhkan diantaranya adalah diversifikasi produk, perbaikan kendali mutu dan masalah yang terkait dengan kesehatan.
Di pasar Cina, Indonesia berhasil merebut pasar hanya untuk produk plastik dan karet, produk mineral dan alas kaki. Produk-produk yang berada dalam kondisi lagging opportunity , adalah minyak dan lemak hewani dan nabati, dan produk makanan, yang berarti Indonesia masih dapat melakukan perbaikan-perbaikan untuk mengoptimalkan kesempatan ini, dimana tingkat pertumbuhan ekspor untuk produk ini, masih dibawah permintaan pasar. Kebanyakan produk ekspor Indonesia di pasar Cina dikategorikan sebagai leading retreat dan lagging retreat . Pada kasus ACFTA, Indonesia masih dapat meningkatkan performa ekspornya di pasaar Cina.



Comments

Popular Posts